Saya kuatir karena di era yang serba pakai jari ini, semakin beragam pilihan cita-cita para generasi penerus. Kekuatiran saya bukanlah tanpa alasan. Teknologi media sosial yang luar biasa pesat dan maju dalam dekade terakhir membuat setiap individu ingin melakukan aktualisasi diri dan mungkin juga mencari jati diri. Dan tentunya kekuatiran ini terutama saya tujukan untuk mereka yang masih kategori anak dan remaja. Kalau kita tanyakan pada kelompok anak atau remaja apa cita-cita mereka nanti, mungkin akan jarang lagi kita dengar jawaban dokter, polisi, pilot, insinyur atau guru. Kini mereka punya wawasan lain yang lebih familiar sejak mereka kecil, sebut saja istilah youtuber, selebgram, influencer dan vlogger. Tentu sah-sah saja bila cita-cita itu dimulai dengan langkah yang luhur dan beradab.
Saya kuatir karena di era media sosial ini, anak-anak dan remaja makin mudah mencari informasi, makin mudah melihat punya orang lain, apapun itu, dan makin mudah terpapar oleh banyak hal yang tidak perlu. Anak dan remaja adalah masa yang sangat penting dalam proses pematangan fisik dan mental. Banyak contoh kasus yang menunjukkan betapa kacau dan rusaknya masa depan seseorang bila sejak kecil ia terpapar oleh banyak hal buruk. Dan itu mudah sekali dialami oleh mereka yang sedang dalam fase pertumbuhan di era sekarang.
Saya kuatir mereka memilih role model dari media sosial yang sebenarnya palsu. Mereka follow akun yang isinya pamer harta kekayaan, kemudian mereka berpikir bagaimana caranya supaya bisa seperti itu, namun karena jauh api dari panggang, mereka hanya berupaya terlihat kaya. Akhirnya, terpaksa utang, ikut pinjaman online, atau kredit ini itu yang dipaksakan, semua hanya demi konten, dan berakhir dengan ditagih debt collector atau bunuh diri karena lilitan utang. Mereka ingin menjadi kaya tanpa tahu bagaimana proses panjang dan berat yang dilalui oleh sang pemilik akun. Masalah lain, banyak pengguna media sosial yang pamer harta kekayaan orang tuanya, setiap kali melakukan postingan baru isinya pamer fasilitas di rumahnya yang super mewah atau pamer barang mahal yang baru dibeli. Pasti yang ditunggu adalah komentar atau like dari para followernya. Hal-hal seperti ini akan menumbuhkan rasa tidak mau kalah dan silau dengan pujian. Dan sifat ini akan membentuk pribadi yang emosional, sombong dan rapuh.
Saya kuatir dengan konten semi-pornografi yang mendapat jutaan like, follower atau subscriber menjadi inspirasi bagi anak dan remaja jaman sekarang. Banyak selebgram yang kalau tidak jualan susu (payudara) ya jualan pupu (paha). Semuanya demi uang. Nafsu seksual adalah basic instinct hewan, dan manusia sejatinya adalah hewan yang dianugerahi akal. Menggaet pengikut di media sosial dengan memanfaatkan basic instinct tadi merupakan hal yang paling mudah dilakukan. Tinggal bagaimana kita menyertakan akal dalam setiap aktivitas kita di dunia maya. Sebenarnya pemerintah telah melakukan blokir konten pornografi dari mesin pencari Google, namun ternyata kini di Instagram, YouTube dan Facebook banyak akun berkeliaran yang menawarkan konten semi-pornografi pada para penikmat dunia maya. Dan ini degradasi moral. Apapun pembelaan dan pembenaran yang dilakukan para pemilik konten, mereka turut menyumbang melakukan degradasi moral secara konsisten. Masalah lain lagi, bukan hanya mereka yang berusia muda yang melakukan degradasi moral tadi, yang setengah tua pun juga. Demi uang, demi endorse, demi popularitas, dan lain sebagainya.
Saya kuatir konten para artis yang menunjukkan kemewahan bisa menjadikan followernya yang beragam latar belakang mengalami delusion of grandeur atau waham kebesaran. Kucing yang merasa singa akibat salah menafsirkan apa yang ia lihat. Sebelum era media sosial, artis hanya bisa kita liat di televisi, dalam waktu-waktu tertentu, dengan proses editing yang rapi. Beda dengan jaman sekarang dimana artis bisa melakukan apa saja, menyajikan apa saja, menunjukkan apa saja, dan ditayangkan kapan saja semau mereka. Para penonton atau follower pun dapat melihat kapan saja mereka mau, diulang-ulang sampai berapa kali pun bisa. Tentu saja artis itu tidak salah secara hukum, dan sah-sah saja. Dan juga, banyak artis yang kontennya bagus dan bermanfaat. Paparan yang konsisten dapat membentuk karakter seseorang, dan pembentukan karakter tersebut bisa di atur oleh moral dasar seseorang. Bila dia memiliki dasar moral yang baik, tentunya bawah sadarnya akan menolak bila mendapati satu postingan di media sosial yang bertentangan dengan moralnya. Disinilah perlunya support system dari orang tua dan juga keluarga untuk memberikan moral dasar bagi anak-anaknya. Menekankan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang layak ditiru dan mana yang tidak.
Saya kuatir orang tua era media sosial menjadi permisif terhadap anaknya, asal popular, asal terkenal, asal dapat uang, asal konten laris, peduli setan dengan moral dan akhlak. Dilihat dari sisi manapun, popularitas hanyalah kenikmatan yang semu dan sementara. Dan efek simpang yang dapat ditimbulkan akibat popularitas yang bukan pada tempatnya adalah masalah psikologis. Munculnya mekanisme pembelaan ego yang imatur, depresi, hingga psikotik. Banyak selebgram baik di dalam maupun luar negeri yang mengalami depresi akibat perundungan (bullying) di media sosial, akibat jumlah like yang kurang ataupun caci maki para haters. Mungkin ini juga alasan Instagram menghapus fitur jumlah like.
Saya kuatir kini orang tua tidak peduli dengan anaknya, tidak peduli dengan apa yang dilihat anaknya karena sibuk dengan media sosialnya sendiri. Padahal peran orang tua dalam melakukan filtrasi konten untuk anaknya sangat penting. Orang tua harus bisa menjadi filter, menjadi pengarah dan menjadi hakim yang adil atas konten yang dilihat anaknya. Adil dalam artian sesuai porsi. Karena setiap jaman ada orangnya dan setiap orang ada jamannya, tidak mungkin arus masuk teknologi media sosial kita hindari sama sekali. Ini yang perlu diketahui. Oleh karena itu orang tua harus adil, waktu dan konten harus sesuai porsi anak.
Ya, saya kuatir.
No comments:
Post a Comment